
Hilanglah sudah julukan bogor si Kota Hujan berganti dengan nama "Kota Sejuta Angkot".
Lama sudah aku tak kembali menyambangi kota kelahiranku ini, tepatnya di bogor megamedung karena sibuk mencari penghidupan di kota yang meletihkan ini (Jakarta). Setelah sekian lama bergulat dengan berbagai macam pekerjaan yang menyibukan tubuh dan pikiran, ingin rasanya menikmati hidup yang nyaman dan damai. Aku mulai melangkahkan ke stasiun terdekat dengan kos-kosan ku yaitu stasiun kota, aku ingin menginjakkan kaki ini di tanah kelahiranku (begitu kata pikiranku). Pukul 8 pagi 2008, hari sabtu aku berangkat dari stasiun kota yang di penuhi berbagai aktivitas manusia di sekitarnya, mulai dari pedagang, anak-anak jalanan, hingga seorang petugas kereta yang sedang menggoda seorang wanita muda (ABG). Aktivitas itulah yang selama ini saya selalu temui di jakarta dan kota tua. Kereta pun mulai beranjak menggilas relnya, perlahan kereta berlari dan berhenti di setiap stasiun yang di hampiri. Dua jam hampir lamanya aku berada di dalam kereta eknomi ini, berhimpitan dengan semua orang yang ada, serta pedagang yang tak henti-hentinya menawarkan dagangannya. Akhirnya roda kereta ini berhenti di stasiun terakhir yaitu stasiun bogor. Aku pun melangkahkan kaki keluar dan bergegas berjalan mencari angkutan kota. Setelah menunggu cukup lama akhirnya aku naik angkutan kota jurusan sukasari, hanya beberapa lama setelah roda mobil berputar mobilpun berhenti lagi, aku pun heran dan coba melihat kedepan dan ternyata banyak sekali angkutan kota dan mobil-mobil pribadi saling mendahului ataupun parkir di sembarang tempat yang menyebabkan kemacetan. Cukup lama aku berada dalam angkutan kota ini untuk menuju sukasari, waktu yang biasanya aku tempuh dulu kurang dari 10 menit, kini harus di tempuh kurang lebih 25 menit. Setelah sampai aku di sukasari akupun membayar uang sejumlah 2000 rupiah kepada supir, dan aku pun menuju angkutan kota lain yang menuju rumahku di megamendung. Setelah naik angkutan jurusan cisarua-bogor yang pada waktu itu cukup penuh juga, angkutan pun melaju perlahan karena di depannya terdapat beberapa angkutan kota yang sedang diam disembarang tempat untuk menunggu penumpang.
Haripun semakin siang dan.. aneh udara pun terkesan semakin panas di dalam angkutan kota itu, hmmm keringat pun mulai menetes di dahi dan punggungku. Udara yang dulu sejuk tak dapat aku rasakan lagi didalam kota ini (aku bergumam dalam hati dan pikiranku), sekilas mataku melirik seorang pria di pojokan bangku jok mobil disitu terlihat seseorang dengan santainya menghisap sebatang rokok yang asapnya berhembus keseluruh isi mobil, hingga membuat aku dan sebagian penumpang menutup hidung. Sadar bahwa kelakuannya diperhatikan orang di dalam mobil tak lama orang itu pun mematikan rokoknya dan orang didalam mobilpun bisa bernafas lega. Waktupun terus berlalu hingga tak terasa sudah hampir di daerah ciawi, aku kaget juga begitu sampai di pertigaan ciawi karena telah berjejer truck besar, bis, dan angkutan kota yang sedang berjalan perlahan menuju persimpangan. " Macet euy, bro" seorang laki-laki anak sekolah smp saya perkirakan bergerutu kepada temannya. "Loba teuing ku angkot ayeuna mah" jawab temannya, dan supirpun ikutan menjawab" he'eh bener jang". Aku pun terdiam dalam gerutuan dan celotehan anak sekolah dalam angkutan itu. Hampir 2 jam aku berdiam diri dalam angkutan kota dari sukasari menuju megamendung, lelah dalam hatiku, apalagi ketika melewati tanjakan di Gadog, malah tambah parah angkutan merayap menuju rumahku. Setelah dua jam berlalu aku pun berhenti di depan gang rumahku setelah turun dan membayar kepada supir angkutan aku pun bergegas menuju rumahku. Keponakan-keponakanku ternyata sudah menunggu dan menyambutku, sedikit tawa gelak mereka membuat rasa letih ku karena kemacetan kota bogor ini sedikit hilang. Akupun masuk rumah dan mulai melepaskan kelelahan yang lumayan membuat badan kejang. Kesejukan dan kedamaian kota bogor kini sudah tak terasa lagi, yang ada hanya debu dari knalpot-knalpot angkot dan teriakan supir untuk mencari penumpang yang terdengar dan terngiang.
Sleep with nice dream



